Esther Teman Kerjaku [Cerita Seks]

Seperti biasanya, saya dan Esther serta karyawan lain pulang pada pukul 4:30 sore, namun kami tidak langsung pulang. Kami habiskan sisa malam itu (kalau tidak salah malam Sabtu) untuk nonton film di bioskop. Sepulangnya menonton film **** (edited) pukul 9:30 malam, saya mengantar Esther ke rumahnya. Oh iya, aku lupa menceritakan bahwa Esther masih tinggal bersama orang tua dan saudaranya yang lain.
Sebenarnya aku sudah akan pamit pulang karena lelah bekerja seharian di kantor, tapi dengan manja Esther mencegahku pulang, “Kenapa sih..? Sebentaaar… aja, aku bikinin kopi ya..?Pleasee..!”
Aku jadi tidak tega melihatnya, apalagi mendapat tawaran kopi yang menjadi kegemaranku itu.
“Iya deh, siapa takut?” ujarku setengah bercanda.
Begitu Esther membuka pintu ruang tamunya, kami disambut oleh Rian, anaknya yang semata wayang itu.
“Bundaa pulang.., ‘kantol’-nya kok malem amat..?” mulut mungil anak berusia 3 tahun itu terlihat menggemaskan menanyakan ibunya.
“Iya sayang, Bunda kan harus kerja dulu, oh iya salim donk sama Oom Pam.” kata Esther sambil melirik ke arahku.
“Mas, mandi dulu ya, aku bikinin kopi buat Mas…”
Aku hanya mengangguk kecil, kemudian kuterima handuk dari Esther dan langsung masuk ke kamar mandi.

Setelah mandi, kulihat ayahnya sedang membaca koran di ruang keluarga, kemudian kusapa, “Malam Pak, maaf, Saya numpang mandi.”
Ayahnya terlihat kaget, “Oh Nak Pram..? Saya kira siapa, mari silakan duduk.”
Kami pun terlibat obrolan ringan sampai akhirnya muncul Esther keluar dari kamarnya, “Maaf Mas, Aku nidurin Rian dulu, nih Mas kopinya, Aku mau mandi dulu ya..?”
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 10:45 malam, lalu aku tanya ke Esther, “Udah malem gini mau mandi..?”
“Kenapa emang..? Abis badanku bau sih…” jawabnya sambil meraih handuk yang bekas kupakai mandi tadi, terus ngeloyor masuk ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, ayahnya menyahut, “Mas Pram, Ayah tinggal tidur dulu ya..?”
Sambil mengangguk, kujawab, “Mari Pak.., silakan..!”

10 menit kemudian, terlihat Esther keluar dari kamar mandi dan kelihatan segar dengan kaos kutang kuningnya dipadu dengan celana pendek motif bunga yang bagian pahanya terlihat longgar. Aku yang dari tadi duduk di sofa di ruang tamunya, pindah selonjoran di lantai yang dilapisi karpet berwarna coklat tua. Esther pun duduk di sebelahku ikut selonjoran.
“Enak nggak Mas kopinya..?” Esther membuka percakapan.
Aku pun menyahut, “Yahhh… lumayan, kemanisan dikit.” sambil kuraih cangkir kopi di depanku dan tanpa sengaja siku lenganku menyenggol daging kenyal di dadanya.
“Iihhh.., nakal ahh..!” katanya diiringi tatapan matanya yang indah itu.
“Ehh.. Kamu.., nggak pake ya..?” aku setengah kaget begitu mengetahui Esther tidak pakai BH.
Esther hanya tersenyum penuh arti.

“Nggak suka ya, hhmm..?” kata-katanya begitu menantang gairah kelakianku.
Sebagai jawabannya, aku meraih kepalanya kemudian kudaratkan kecupan lembut di bibirnya. Dia pun membalasnya dengan penuh gairah dan tanpa dikomando, tanganku mulai menjalar ke arah dadanya.
“Mas… hmm jangan Mas, nanti ketauan Ayah.. eehhh.. Ayah kan belum lama masuk kamar..?” kata Esther pelan, takut ketahuan seisi rumah.
Aku pikir sebenarnya dia sudah dirasuki nafsu birahi. Aku pun menjawabnya dengan setengah berbisik, “Lho, lagian ngapain Kamu nggak pake BH, hayo..?”
Esther hanya membalas dengan mencubit perutku.
“Nakal..!” katanya manja tapi tidak berusaha menepis tanganku atau bagaimana.

Sebenarnya, situasi di rumahnya tidak memungkinkan untuk kami bercumbu. Tapi nafsu setan yang menguasai kami berdua sudah tidak bisa dikalahkan. Kemudian sambil mengobrol, kulanjutkan lagi jelajahan tanganku menelusup ke balik kaos buntungnya itu. Karena di balik kaos itu, Esther sudah tidak pakai apa-apa lagi, maka tanpa kesulitan tanganku bisa meraih bola dagingkembar di dadanya. Buah dada Esther walau sudah punya anak satu, bagiku masih terasa kencang dan kenyal, apalagi puting di puncak bukit kembarnya masih terasa kecil di jepitan jari-jariku, layaknya masih gadis saja. Karena tidak sabar, kutarik kaos kutang itu ke atas dan terpampanglah tonjolan buah dadanya, lalu aku mulai mengarahkan kepalaku untuk mengecup payudaranya.
Tapi ternyata kedua tangan Esther menahan kepalaku, “Jangan Mas.., nanti ketahuan…” Esther berbisik pelan.
“Iya.., ya makanya begini aja, Kamu pura-pura ngobrol apa kek, biar nggak ketahuan…” aku menyahut sambil memberi saran.

Begitulah selanjutnya, Esther pura-pura ngobrol atau menyanyi kecil untuk mengkamuflase tindakan kami agar tidak terdengar oleh kedua orang tuanya. Sementara jemari di tangan kiriku terus memilin puting payudara Esther sebelah kiri yang sudah mencuat kemerahan, sedang mulutku mulai mengecup puting yang satunya. Diperlakukan seperti itu, walau masih menyanyi-nyanyi kecil, tak urung desahan nikmat juga terdengar pelan dari mulut Esther. Aku menjadi geli sendiri dengan kelakuan Esther itu. Bagaimana tidak..? Esther menyanyi tapi diselingi rintihan dan desahnan nikmat, lagu yang dinyanyikannya jadi tidak karuan.
Begitu Esther tahu aku tersenyum geli, dia menegurku, “Kenapa sih..?”
Aku menjawab sambil mulutku tetap menghisap putingnya, “He.. he.. nggak apa-apa, lagu Kamu fals…”
“Uu-uhhh jahat..! Habis gimana dong..?” ucapnya pelan.
“Ya udah.., terusin aja, nggak apa-apa…” jawabku sekenanya.

Kembali mulutku mengulum puting Esther yang semakin keras, terasa di jepitan bibirku. Perlahan namun pasti, tanganku mulai turun ke arah perutnya dan terus ke arah pangkal pahanya.
Begitu tahu apa yang akan aku lakukan, Esther kembali melarangku, “Mas.., jangan Mas.., udah nggak usah ke bawah-bawah segala, pleasee..!” sambil tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kananku.
Tapi apalah artinya tangan sekecil itu melawan tanganku yang kekar. Nyatanya, yang kurasakan tangan itu bukannya melakukan perlawanan, namun malah seperti mengarahkan jari-jari di tanganku ke arah pahanya terus menerobos masuk ke selangkangannya melalui bagian celana pendeknya yang longgar itu.

Sekarang mulutku pindah ke arah lehernya sambil kubisikkan pelan, “Kamu bilang jangan, tapi kok diam aja..?”
Esther hanya mendesah ketika jemariku mulai menyentuh secarik kain yang sudah basah dan masih menutupi bagian terlarang selangkangannya, “Makanya.., ouuhh.., jangan dong Mas.., shhh… Aku takut nggak bisa nolak..!”
Mendengar kata-kata itu, aku justru semakin berani menyusupkan jari-jariku melewati jepitan celana dalam Esther. Dan sedetik kemudian, kurasakan kebasahan yang tersentuh jariku pada bibir kemaluannya.
Kutatap matanya yang sekarang setengah tertutup sayu sambil mulut seksinya setengah terbuka, mengeluarkan desahan pelan, “Ouuhhh Masss.., what should I do..?”

Akhirnya dia menyerah atau memang sebenarnya sudah sangat bernafsu, mengharapkan tanganku beraksi lebih jauh lagi. Tidak kubiarkan kesempatan itu, walau di dalam hatiku sendiri masih diliputi perasaan deg-degan, takut seisi rumahnya terbangun. Perlahan jari tengahku menyusup masuk ke lorong kemaluan Esther yang sudah terasa licin sambil ibu jariku memainkan bagian ujung atas pada vaginanya. Esther hanya bisa merintih keenakkan begitu jariku semakin masuk, menerobos lubang kemaluannya. Sementara tangan Esther kemudian seperti refleks, meremas batang kemaluanku yang masih tersimpan rapih di balik celana jeansku.
“Masss.., aduhh Mas..! Uuhh.., God..! Sshhhtt… uuff…” sepertinya rintihan Estherterdengar lebih keras, cepat-cepat kubungkam dengan melumat bibirnya yang memang terlihat sudah siap itu.
Dengan begitu suara rintihannya hanya terdengar di dalam mulutku.

Tetapi tiba-tiba dia melepaskan ciumanku, lalu Esther berkata pelan, “Masss… celanaku basah nih, dibuka aja kali ya..?”
Aku pun menjawab tidak kalah pelannya, “Cepet amat sih..? Belum-belum udah banjir..!”
Esther hanya bisa menyungut, “Salah mas juga lagi..! Kenapa udah 2 minggu Mas nggak ngasih jatah ke Aku, perasaan 2 hari yang lalu Aku udah minta, tapi Mas Pram aja yang nggak tahu..!”
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya. Lalu aku berusaha melepas celana pendeknya sambil dibantu oleh Esther. Sementara itu, kami berdua kompak melirik ke arah ruangan dalam, siapa tahu ada yang bangun. Aman..! Wah kalau sampai ada yang bangun, bisa berabe nih urusannya.

Begitu celana pendek itu terlepas, Esther menatapku sayu, “Udah..? Yang ini aja..? Yang satunya dibiarin aja, apa gimana..?”
Aku pura-pura bego, “Dibuka juga..?”
Kembali Esther menyahut, “Iihh.., norak..! Udah tanggung lagi..! Ayo.., dibuka juga..!”
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku menuruti kemauannya. Dengan terampilnya kupelorotkan celana dalam itu, sementara Esther mengangkat pinggulnya untuk membantu kemudahan tanganku melepas celana dalamnnya yang berwarna merah. Celana dalam yang sudah terlepas itu aku ciumi dengan hidungku sambil kujilati kebasahan yang lengket disitu.
Melihat ulahku, kontan Esther protes, “Apa-apaan sih Mas..? Jorok deh ihh..! Ketimbang nyiumin yang itu, kenapa nggak yang aslinya aja dicicipin..?” sambil tangannya merebut celana dalam miliknya yang sudah basah dan ternoda itu dari genggaman tanganku.

Sambil tersenyum penuh arti, aku menyahutnya, “Boleh..! Siapa takut..? Udah lama kayaknya nggak ngerasain.., hmm.. lendir Kamu…”
Esther menanggapinya dengan tersenyum nakal, “Iya nih..! Udah lama kan lidah dan mulut Mas Pram nggak menengok punyaku..? Tuh.., liat tuh..! Dia kan juga kangen sama mulut Mas Pram, dijilat, dicium, diemut, pokoknya dia ketagihan lho sama mulut Mas.., apa Mas Pram nggak kasihan sih..?”
Mendengar kata-kata erotisnya, birahiku semakin terbakar, “Iya sayang.., mulutku juga haus nih pingin ngerasain lagi lendir Kamu itu.”
Esther sekarang mulai merebahkan tubuhnya di karpet sambil bertumpu pada kedua siku tangannya, kedua kakinya ditekuk ke atas, terlihat di selangkangannya mengintip bulu–bulu halus yang masih menutupi lubang kemaluannya yang harus kuakui benar-benar membuatku mabuk kepayang.

Seperti hendak memancing gairah kelakianku, Esther memainkan pahanya dengan membuka dan menutup pahanya. Aku menjadi gemas karenanya. Tanpa perlawanan berarti dari Esther, aku menyibakkan lutut di kakinya dan langsung mengarahkan kepalaku ke daerah selangkangannya. Tanpa basa-basi lagi, aku mulai menciumi rambut halus yang tumbuh di daerah pubisnya. Lidahku menjalar ke bawah, mengikuti garis lipatan pangkal pahanya. Dan aroma kemaluan Esther pun sontak merebak tertangkap oleh indra penciumanku. Sejujurnya harus kuakui juga aroma dan bau khas lubang vagina Esther benar-benar membuatku sering tidak bisa tidur. Untuk memudahkan aksiku, aku memposisikan tubuhku dengan tengkurap, sementara kedua tanganku menyusup di bongkahan pinggul Esther, lalu pinggul itu aku angkat hingga lubang kemaluan Esther sejajar tepat di depan wajahku.

Pinggul Esther yang sudah terangkat itu, kusangga oleh kedua siku tanganku yang menempel di lantai. Sementara kaki kiri milik Esther menjuntai di punggungku dan yang kanan disandarkan di atas meja, di dekat situ. Dengan posisi seperti itu, sekarang aku jauh lebih leluasa menggarap semua bagian selangkangan Esther yang tepat di depan wajahku itu. Tidak lupa aku dan Esther tetap bergantian memantau ke arah ruang tengah untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Bisa kacau kalau ketahuan sama keluarganya. Lidahku sekarang mulai menyapu bagian bibir luar kemaluannya diiringi erangan nikmat dari mulut Esther. Sambil tetap tanganku menyangga pinggulnya, ibu jari di kedua tanganku mencoba membuka lebih lebar liang kemaluan Esther yang sudah merah itu. Kemudian aku mulai menjulurkan lidahku menelusup masuk ke dalamnya.

Perlahan kujelajahi bagian demi bagian pada lubang kemaluan Esther. Dari mulai lubang pantatnya, kemudian naik terus melalui lorong surga milik kekasihku ini. Terdengar rintihan lirih dari mulut Esther, “Ouufff.., sshhh.., Goodd..! Yahhh… terus Masss… yaahh… begitu.. Itil-ku dong Sayang..! Yaahhh… oouwww… ffssttt…”
Memang saat Esther merintih itu, aku sedang memainkan klitorisnya yang mencuat seolah mengharap kepada mulutku untuk berbuat lebih liar lagi. Dari hanya menjilat dan menyentil, mulutku mulai menghisap klitoris yang bertengger di pucuk atas kemaluan Esther. Kuhisap perlahan daging sebesar kacang itu dengan menggunakan lidah dan bibirku. Sementara rintihannya berubah menjadi jeritan kecil yang membuatku sedikit cemas membayangkan seandainya seisi rumah itu terbangun.

Kuhentikan aksiku untuk memperingatkan Esther, “Heh.., ssttt..! Jangan keras-keras… ngaco deh Kamu..!”
Sambil terus mendesah, Esther hanya bergumam, “Iya.., aduuhh… ouhhh… abis Kamu pinter.., enakkhh banget, tahu nggak sih..? Terusin dong Sayang… jangan berhenti… terus emut itil-ku yang keras..!”
Kembali aku menjilati belahan lubang kemaluan Esther yang sedikit terkuak itu dengan irama yang teratur, menelusuri lembah dan celah-celah di seantero lubang kemaluannya, dan aroma harum vagina Esther yang khas semakin tajam menusuk hidungku. Terlihat dinding luar kemaluannya yang semakin basah dan lengket terasa gurih di lidahku. Sedang klitorisnya terlihat semakin membesar dan tambah memerah, seolah mau meledak menahan gejolak nafsu birahi si empunya. Lalu aku kembali menuruti kehendak Esther untuk mengemut bibir atas kemaluannya, termasuk klitorisnya dengan irama yang lebih cepat dan ganas.

10 menit sudah berlalu dan tanganku sudah terasa pegal menyangga bobot tubuh bagian bawah Esther. Mungkin karena nikmat yang dirasakannya semakin tinggi, dia lupa untuk tidak membuat suara gaduh, aku sendiri pun jadi tidak peduli, dengan semangat kupercepat irama hisapanku pada bagian klitorisnya. Erangan dan rintihan Esther semakin terdengar panjang, nafasnya memburu kencang, tubuhnya kelojotan, gerakan pinggulnya semakin liar, seolah semakin mengejar gerakan lidah dan mulutku.
“Ouuwww… nikmatnya… terus Sayang..! Yahhh… oohh Goodd..! Yaahh.., yahhh… sedikit lagi Sayang… sshhh ssttt, ouhh ufff… aduhh.., enak banget sih..! Sshhh… yahh…” desahnya yang mulai terdengar lebih keras.
Aku sendiri berharap phenomena. Dimana dari lubang kemaluan Esther akan menyembur lendir bening.

Tubuh Esther meregang hebat, pinggulnya semakin bergerak tidak karuan dan kedua kakinya kejat-kejat, sementara kepalanya mendongak ke atas, menandakan nikmat yang dirasakan Esther semakin meninggi.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian, “Sruuttt… sreettt… crrutt…” menyembur cairan yang kutunggu-tunggu itu menyerbu masuk ke dalam mulutku.
Dengan penuh nafsu, kuhisap dan kuhirup dalam-dalam cairan hangat dan gurih yang mengalir memenuhi seantero mulutku dan tidak kubiarkan setetes pun luput dari hisapanku.
“God..! Aaww… yaa teruss… terusss emut… ouuww… aduh nikmatnya..! Jangan berhenti Sayang..! Hisap lebih keras..! Aahh… sshhttt.., emut terus, emut lebih kuat Sayanggg..! Ouww sshhhtt… gila enak banget..! Ya Tuhan… owwhhh.. yaahhh… yaaaahhh…” jeritan kecil Esther terdengar panjang mengiringi puncak orgasme yang dialaminya, setelah sekian lama tidak mendapatkannya dariku.

Terlihat bibir kemaluan dan klitorisnya tambah merah dan sepertinya berdenyut-denyut, menandakan detik-detik dimana Esther sedang mengalami perasaan yang melayang tinggi dihempas badai kenikmatan duniawi lewat sentuhan lidah dan bibirku. 1 menit pun berlalu setelah Esther mengalami puncak kenikmatan yang baru saja dialaminya. Aku sendiri masih giat menjilati sisa–sisa cairan yang menetes mengalir keluar menyusuri belahan liang vagina milik Esther itu.
“Ouhh.. Mas.. aduhh.., bener-bener deh aku.. aku puas banget..! Ouh.., sshh.. Kamu memang luar biasa Masss..!” pujinya di tengah-tengah puncak kenikmatannya.

Kemudian kulepaskan bibir dan lidahku pada kemaluannya, dan kurebahkan pinggulnya di lantai. Lalu dari mulutku kukeluarkan cairan yang tadi memenuhi mulutku, kutampung dengan telapak tanganku. Kuperlihatkan kepada Esther cairan berupa lendir bening agak kental di depan wajahnya.
Sontak dia kaget, “Apa-apaan sih Mas..? Itu cairanku..? Iihh.., jorok ahh..! Sini Aku bersihkan..!”
Aku menghindar, “Jangan Sayang, aku cuma mau kasih tahu aja ke Kamu.., ini lho lendir Kamu, enak aja dibuang.”
Lalu kuseruput cairan itu dari telapak tanganku sampai habis, kujilati bekas-bekas lendir yang masih menempel pada jari dan telapak tanganku. Kukecap-kecap dengan penuh perasaan, seolah aku baru meresapi sesuatu yang terlezat dan tergurih yang pernah aku rasakan. Esther hanya bengong dan meringis menatap ulahku barusan.

Sambil merapihkan pakaiannya yang sudah acak-acakkan, dia bertanya, “Mas, apa Kamu nggak jijik sih..? Apaan sih rasanya..? Enak, apa..? Kok kayaknya sampai begitu amat..? Tapi.. Aku jadi nafsu lagi lihat Kamu kayak gitu.”
Esther melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu kujawab, tapi aku coba menanggapinya, “Kan Aku pernah bilang ke Kamu, belum pernah Aku rasakan cairan wanita sesegar dan seenak yang Kamu punya…”
Kemudian Esther menyambung, “Tapi mas, eeeng.., Mas Pam kan belum keluar, Aku keluarin sekarang ya..?”
Aku tidak langsung menjawab, kulirik arlojiku, wah udah hampir jam 12 malam. Lalu kukatakan kepadanya, “Besok aja deh, sekarang udah malem, nggak enak, ntar kalau Ayah bangun, gimana..?”

Dalam hati, aku sendiri pun sebenarnya ingin juga sih.
Tetapi seperti bisa membaca pikiranku, Esther langsung menukas, “Allaaa… nggak apa-apa kok, makanya jangan berisik..!”
Mendengar omongannya barusan, aku langsung membantah, “Yee.. orang Kamu dibilangin jangankeras-keras malah Kamu yang menjerit, kan Aku yang minta jangan keras-keras.”
Esther tersenyum geli, “Iyaa.. habis mulut Mas ini lho yang nggak kuat Aku menolaknya. Ayo dong..! Mau ya..? Soalnya Aku nggak mau punya hutang nih..!” Esther mencoba merayu.
Aku pura-pura tidak mengerti, “Punya hutang apaan sih..?” tanyaku pura-pura bego.
“Norak..! Kampungan..! Ndeso..! Sini..!” sungutnya sambil pura-pura cemberut.
Tetapi habis ngomong begitu, tanpa kuduga tangan Esther mengarah ke arah kemaluanku, dengan terampilnya sudah membuka resletting celanaku. Dan tanpa kesulitan, batang kemaluanku pun sudah dalam genggamannya.

“Kamu tau nggak sih..? Aku juga kangen kamu.” Esther berkata begitu sambil tangannya yang satu menunjuk ke arah batang kemaluanku dan tatapannya juga tertuju ke arah yang sama.
Aku jadi tersenyum geli melihat tingkah polahnya.
Lalu dia melanjutkan, “Kamu kangen sama Aku juga, kan..? Aku nggak mau kehilangan kamu, tau nggak..? Awas ya kalau kamu main-main selain sama Aku, bilang sama boss kamu,kalau kamu dilarang main-main sama yang lain, kecuali sama Aku, gitu..!”
Aku mendengarnya semakin geli. Ada-ada aja anak ini. Tapi sedetik kemudian, mulutEsther sudah dalam posisi siap menerkam rudalku. Aku sendiri kaget, karena memang tidak siap, lalu, “Sluuppp…” mulut Esther yang sudah menganga itu melahap dengan lembutnya batang penisku.

“Ouuhh… sshhh…” gantian aku yang sekarang merintih pelan, merasakan kehangatan dan kelembutan mulut kekasihku ini pada rudalku.
Dijilat perlahan dari pucuk kepala batang kemaluanku terus menelusur ke bawah, sampai mendekati kedua bola pada pangkal kemaluanku. Demikian terus Esther menjilati dengan matanya setengah tertutup, seolah dia memang sedang menikmati makanan atau permainan yang sangat digemarinya. Aku pun tambah kelojotan menerima perlakuan lidah Esther yang hangat dan lembut menyapu setiap mili kulit kemaluanku. Apalagi sekarang mulutnya mulai mengenyot buah zakar-ku dengan lembut,bergantian kiri dan kanan, sementara tangan kanannya tetap mengurut dan meremas-remas batang kemaluanku.

“Yaahhh.. Sayang.. terusss… eehhh.. eesshhh.. essttt.. aduh.. enakkkhh Sayang..!” tanpa sadar keluar rintihan nikmat dari mulutku, merasakan nikmat bercampur ngilu di biji kemaluanku begitu diemut mulut Esther.
“Ehhmm.. mmhhh.. sruppp.. sleeppp..” sayup-sayup juga terdengar bunyi dari batang kemaluanku yang makin ganas dikenyot dan keluar masuk ke dalam mulut Esther, yang bagiku terlihat seksi jika sedang menggarap batang rudalku itu.
Mungkin karena refleks, tanganku pun mulai bergerilya mengusap-usap pahanya yang masihpolos karena celananya belum dipakai oleh Esther. Kemudian terus naik ke atas, sampai tersentuh lagi di jariku bulu-bulu kemaluan Esther dengan segala kehangatan dan kebasahan yang sepertinya mulai membanjir lagi keluar dari lubang yang barusan habis dilumat mulutku.

“Ouuhhh.. aauufff.. ssttt… sshh.. yahh.. Aku pingin lagi Mas.. sshh..” si Esther pun seperti tidak mau kalah merintih keenakkan, sementara tangannya terus mengocok kemaluanku.
“Aduuuhh… Mas.. dimasukkin aja ya..?” sepertinya dia sudah tidak sabar ingin lubang kemaluannya segera dicolok oleh batang kemaluanku.
“Hahh..? Gila Kamu..! Ntar gimana..? Terus siapa yang mengawasi, siapa tahu ayah atau ibu ntar bangun lho..?” kataku khawatir.
Esther tidak langsung menjawab, dia malah memposisikan tubuhnya naik di pangkuanku dan batang kemaluan yang masih digenggamannya itu diarahkan ke liang vaginanya.
“Bodo ah Mas..! Aku nggak peduli..! Kalau emang ketahuan sama Ayah, biar sekalian aja Kita dikawinin…” ucap Esther yang memang sudah sangat bernafsu ingin merasakan hunjaman batang kemaluanku menusuk-nusuk liangnya yang semakin banjir.

“Kamu emang geblek Ther..! Ngaco..!” kataku setengah membentak pelan, walau sebenarnya di dalam batinku memang ingin merasakan juga jepitan lubang kemaluan Esther meremas-remas batang kemaluanku.
Bukanya menjawab, Esther malah membimbing batang rudalku, lalu mulai menancapkan rudalku di belahan lubang vaginanya sendiri yang sudah setengah terbuka itu. Sementara dengan posisi jongkok di atas pangkuanku, batang kemaluanku itu oleh tangannya diusap-usapkan dahulu di mulut kemaluannya sendiri. Terasa di kepala kemaluanku kebasahan yang menempel dari kemaluan Esther.
Esther menyambung pembicaraannya, “Biarin..! Mau geblek kek, mau gila kek, Aku memang gila.., gila akan punya Mas ini. Emang cuma Mas aja yang nggak bisa tidur, Aku juga sering nggak bisa tidur membayangkan ini-nya Mas kalau menembus punyaku… uuuhhh… Aku nggak kuat Mas… nggak tahan ingin merasakan lagi ini-nya Mas.., oouuhhh Godd..! Yess.. esshhtt..” kata-katanya terputus begitu tubuh Esther bergerak turun, yang membenamkan rudalku menerobos masuk ke liang kemaluannya sendiri.

Perlahan, rudal sepanjang 16 cm milikku itu menggelosor masuk menjelajahi setiap mili dinding kemaluanya sampai ujung kepala kemaluanku menyentuh mulut rahimnya. Didiamkannya sesaat batang kemaluanku tenggelam seluruhnya di dalam liang vagina Esther yang hangat. Dibiarkannya mulutkumenghisap lagi putting di kedua payudaranya.
“Adduuhhh.. Mas.. sshh.. akhirnya aku ngerasain lagi punya Mas masuk ke punyaku. Mass.., sshh.. coba rasain ya.., gimana rasanya..?” kata-katanya menjadi tidak jelas.
Aku jadi bingung dengan perkataan Esther barusan. Tapi dua detik kemudian, kurasakan denyutan lembut dengan irama teratur, liang kemaluan Esther seperti meremas dan menggigit-gigit sekujur batang kemaluanku. Kontan aku merasakan nikmat surgawi yang baru kali ini kurasakan demikianhebatnya.

“Iihh… ssshhtt… kok enak sih Sayang..? Ouhhh.., belajar dari mana heh..? Oouhhh.. shhh..”
Esther hanya terlihat tersenyum melihat tingkahku yang kelojotan menerima denyutan dari lubang vaginanya di kemaluanku. Sesaat kemudian, Esther mulai menggerakkan pelan pinggulnya naik turun, otomatis rudalku juga keluar masuk dalam dekapan bibir kemaluannya.
“Ouuhhh Mas, rasanya punya Mas tambah gede.. esshhtt.. bener nggak sih.? Sshhh.. yaahhh, abis.. punyaku.. sshhtt.. seperti ouhh.. sshhh.. seperti nggak muat.. Yaahh., habis deh memekku… oouuuhh.. eeshhh… tapi.. aduuhh, tambah enak Mass.. sshhh… yahh.. ouuff Godd..!” kata-katanya terdengar terputus-putus diselingi desahan nikmat yang membuatku tambah bernafsumenuntaskan keinginan Esther.

Aku sendiri membantunya dengan menggerakkan pinggulku naik turun seirama tubuh Esther yang juga bergerak naik turun. Sementara, di pusat kenikmatan kami berdua itu terdengar kecipak-kecipak cairan yang keluar lagi dari kemaluan Esther membanjiri dan membasahi batang rudalku. 10 menit berlalu, masih dengan posisi seperti itu, terlihat Esther kelelahan, keringatnya melumasi seluruh tubuhnya, lalu tubuhnya ambruk menindihi tubuhku. Kuambil inisiatif untuk kembali menggerakkan tubuhnya, tapi sekarang gerakan itu dibantu kedua tanganku memegang pinggul Esher dan kugerakkan naik turun sambil kuimbangi juga dengan gerakan pinggulku naik turun membentur bongkahan pantatnya. Desahan dari mulut Esther kembali terdengar keras, mengiringi kelakuan kami di tengah malam buta itu.
“Terusss.. Mass.. sshhhh.. terusss… yaahhh… Aku.., aduuhh yaahhh… Aku mau… oouuhhh God..! Aku mau keluar lagi Masss… yahh.. yaahhh.. sshhtt.. yaahhhh…” rintihan panjang terdengar lagi dari mulut Esther sambil memelukku erat dan jepitan kemaluannya terasa semakin keras berdenyut mendekap batang kemaluanku.

Sementara itu, kedua bola mata Esther hanya terlihat putihnya saja dan kuku-kuku di jarinya mencengkeram pundakku erat-erat. Aku sadar beberapa detik lagi Esther pasti akan menembus batas pintu gerbang kenikmatan duniawi yang kedua kalinya. Semakin kupercepat tanganku menggerakkan pinggulnya naik turun.
“Terus Mas… Aku enak banget..! Yaahh.. yaaahhh.. Gooddd..!” tubuh Esther kejang-kejang seperti orang kesurupan, matanya sekarang tertutup rapat dan mulutnya terlihat setengah terbuka hanya mengeluarkan desisan panjang, menandakan Esther sedang mengalami detik-detik dimana dia sudah hilang, Sadar tergantikan oleh serbuan kenikmatan dahsyat.
Terasa olehku lelehan lendir yang keluar dari liang kemaluan Esther menerobos melewati celah-celah sempit di antara dekapan dinding dan bibir kemaluannya menjepit batang rudalku, terus menetes membasahi celana panjangku.

“Enak sayang..? Heh..? Enakkkhh..? Punyamu.. ouhh.. bener-bener deh.. sshhhtt.. seperti meremas punyaku.., adduhh.. ssttt.. Aku juga ngerasain enak diemut sama punyamu ini.” kataku menghiasi puncak kenikmatannya.
Aku pun mengerang keenakkan sambil terus menggerakkan tanganku menaik-turunkan pinggul Esther guna membantu batang kemaluanku memompa lubang vagina Esther.
“Ayo dong Sayang..! Uufff.. ssshhh.. cepetan.. aduuhh.. Aku udah nggak kuattt.. aduuhh..! Gila..! punya Mas seperti tambah gede sih..?” kata-kata Esther diselingi rintihan nikmat itu seperti memacu semangatku untuk segera menuntaskan permainan kami kali ini.
Aku pun sepertinya sudah akan mencapai ujung dari penantianku akan kenikmatan sejati yang sebentar lagi akan kuraih.

Semakin kupercepat gerakan keluar masuk batang kemaluanku di antara jepitan dan denyutan lubang kemaluan Esther.
Namun tiba-tiba Esther menjerit lagi, “Aduuuhh.. Mas.., Aku.. Aku mau keluar lagiii..! Yahhh… Masss..! Enak sekali..! Aawww.., sshhh.. Ya Tuhan..! Aku, Aku.., akkhhh… Aku keluaarrr… aaarrcchhhh..”
“Hahh..? Gila bener cewek ini..!” kataku dalam hati, “Masa belum ada satu menit Dia sudah keluar lagi..? Aahh bodo amat..!”
Aku sedang berkonsentrasi dengan diriku sendiri untuk mendapatkan puncak kenikmatanku sendiri. Tidak kupedulikan cairan lendir yang kembali keluar deras dari sela-sela dekapan kemaluan Esther, yang membuat celanaku semakin basah. Lendir bening itu membuat liang kemaluan Esther semakin licin dan becek dan semakin terdengar keras kecipak air lendir di kemaluannya ketika rudalku semakin cepat dan ganas menghantam lubang kemaluan Esther bertubi-tubi.

“Adduuhh.. ampun Mass.. cepetaaaann… Aku nggak kuat..! Oouwww… yaahh… Cepetan dooong..! Gilaaa..! Mati dah Gue..! Sshhh…” Esther menjerit sejadinya, dikarenakan badai kenikmatan yang dirasakannya datang bertubi-tubi menyerang dirinya.
Mendengar Esther menjerit begitu, aku langsung menerkam mulutnya dengan bibirku untuk menghindari seisi rumah itu terbangun mendengar jeritan Esther.
“Mffhhh… eemmmhhh… uuhhh… eeemmffhhh…” jeritan itu sekarang hanya terdengar di dalam mulutku, dan aku pun mulai merasakan rambatan kenikmatan yang terasa di batang kemaluanku mengalir menuju pucuk di kepala kemaluanku.
Benar saja, detik-detik dimana seorang laki-laki akan menyemprotkan air maninya segera akan kualami. Aku pun terbang ke alam bawah sadar dibuai badai kenikmatan sejati.
“Ya Tuhannn..! Nikmat sekali.., oohhhh…” jeritku dalam hati, karena mulutku sedang melumat bibir Esther.
Batang kemaluanku seolah mau meledak mengeluarkan semua isinya dan terasa berdenyut-denyut keras, lalu tanpa bisa kutahan lagi, “Serrr… sreett… seerrett… srrett… serrr…” entah berapa kali spermaku menyembur di dasar lubang kemaluan Esther.

Gerakan keluar masuk rudalku perlahan kuperlambat iramanya, sampai akhirnya berhenti sama sekali. Kemudian kulepaskan tanganku dari pantatnya. Baru terasa pegal di sekujur lenganku yang sudah 10 menit menggerakkan bongkahan pinggul Esther. Dan kubiarkan batang kemaluanku terbenam dalam dekapan lubang kemaluan Esther yang nyaman dan sudah banjir cairan spermaku bercampur lendirnya sendiri.
Kulepaskan lumatan mulutku di mulut Esther, langsung pecah rintihan Esther berbarengan dengan eranganku, “Mmhhuaahh.. Masss… oouufffsshhh… Gilaa..! Enak banget..! Eehh.., Kamu keluar Mass..?” tanya Esther masih diselingi desahannya.
Aku mengangguk. Sambil masih merasakan detik-detik pasca orgasmeku, kujawab dengan nafas yangmasih memburu, “Iyaahh.. oouhhh.. eeesstt.. oouuwwhhh.. kok tahu Sayang..?”
Sambil tersenyum nakal dia menjawab, “Hhmm… punya Mas nyemprot buanyaak.. banget..! Kerasa kok di punyaku, hangat…”

Tiba-tiba Esther bangkit dari pangkuanku, dan otomatis terlepaslah batang rudalku dari kehangatan lubang vagina milik kekasihku ini. Lalu dia berdiri, bergerak melewati tubuhku sambil mengarahkan telapak tangannya ke bawah selangkangannya menutupi daerah kewanitaannya.
“Takut ntar sperma Mas jatuh ke karpet…” begitu alasannya.
Kemudian dia berjongkok di sampingku sambil tetap telapak tangannya masih menutupi selangkangannya, kulihat dari lubang kewanitaanya itu keluar menetes deras spermaku tadi. Ditampungnya air maniku yang putih kental itu dengan telapak tangannya.
Aku hanya terbengong melihat kelakuannya, “Ngapain sih..?” tanyaku heran.
Esther bukannya menjawab, malah tersenyum penuh arti menatapku.

Ada 3 menit dia begitu, sampai akhirnya dia melepas tangannya dari situ. Kulihat jelas cairan spermaku yang tertampung di telapak tangannya yang mungil.
Dibauinya spermaku itu, seolah dia baru mendapatkan harta karun yang sangat berharga, “Nih Mas… sperma Kamu, harum ya baunya..? Kayaknya lezat deh..!” Esther seperti berbicara pada dirinya sendiri sambil menunjukkan air maniku di depan wajahku.
Aku semakin keheranan dengan semua kelakuanya itu. Tetapi apa yang dilakukan Esther sungguh di luar dugaan, cairan kental itu langsung diarahkan ke mulutnya dan dihirup sedemikian rupa dan ditelannya sampai ludes. Bukan itu saja, Esther juga menjilati telapak dan jari di tangannya, seolah tidak rela ada setetes pun cairan spermaku tersisa.

Dan belum hilang rasa kagetku, disambarnya batang kemaluanku yang sudah mulai mengkerut itu dengan tangannya.
“Mau ngapain Ther..?” tanyaku tersekat tenggorokanku terkejut melihat ulahnya.
Tanpa menjawab apa-apa, Esther menurunkan kepalanya ke arah selangkanganku dan kemaluanku sudah tenggelam di dalam mulutnya. Dijilatinya kulit di sekujur batang rudalku itu dari mulai puncak di kepala kemaluanku sampai ke pangkalnya yang di situ masih melekat sisa air maniku bercampur cairan lendirnya sendiri. Beberapa saat kemudian, Esther menyudahi aksinya, lalu dikecapkannya lidahnya, seolah dia masih belum puas dengan hidangan yang barusan dinikmatinya.

Memang sekujur batang kemaluanku terlihat sudah bersih karena baru saja dijilat Esther.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, “Ampuunn deh Kamu! Ckk.. ck.. Aku nggak bisa ngomong apa-apa eh.. Ther, kan di situ ada lendir Kamu juga..? Wah bener-bener dehh… Aku baru melihat ada wanita kayak Kamu…”
Esther dengan enteng menukas, “Biarin..! Sperma Mas campur lendirku, enak lho Mas..! Lagian tadi Mas juga begitu, hayo..! Ngapain lendirku diminum..? Aku juga pingin kan ngerasain sperma cowok kayak apa..?”
“Lho..? Emang sama suami dulu Kamu belum pernah..? Maksudnya belum pernah ngerasain spermanya..?” tanyaku penuh selidik.
“Tau nggak Mas..? Setiap em-el sama suamiku dulu, Aku jarang puas, apalagi sampai mau menjilat dan mau menelan lendir kemaluanku, uuhh… boro-boro..! Lagian kalau Aku sama suamiku dulu, Aku nggak pernah mau menelan spermanya, kayaknya mau muntah, gitu, nggak tau kenapa..? Terus terang Mas, sperma Mas enak, gurih, manis nggak bau apek, bikin Aku ketagihan..!”

Aku menggodanya, “Allaaa… masak sih..?”
Dengan serius Esther menanggapi godaanku, ditatapnya mataku dalam-dalam sambil berkata, “Ngapain sih Aku bohong, Mas..? Kalau Mas Pram saja mau memperlakukan Aku demikian, itu suatu sensasi tersendiri buatku, Aku belum pernah diperlakukan demikian Mas.., Aku merasa seperti wanita yang sangat dihargai, dihormati..! Kenapa Aku nggak bisa mengimbanginya..?”
Kata-katanya terdengar pelan bercampur dengan isakan tangisnya. Aku jadi tertegun, tidak mengira dia jadi begitu. Kemudian dia melanjutkan, “Mungkin karena Aku.., Aku sangat mencintaimu Mas. Kadang Aku menyesal, harusnya Aku kenal Mas lebih dulu dari dia, biar Aku merasakan nikmatnya menikah dengan Mas, Aku nggak mau kehilangan Mas, jangan tinggalin Aku, Mas..!” kata-katanya ditutup dengan isakan tangisan yang mengharukan.

Dengan pakaian yang masih acak-acakkan, kurengkuh tubuh mungilnya, kedekap dia erat-erat, kubiarkan dia menangis di dadaku. Kuelus rambutnya sambil kukecup keningnya. Aku menghibur Esther agar kekasihku ini jangan sampai terlarut dalam kesedihannya.
“Ya Sayang… Aku mengerti, Aku janji, Rian akan mempunyai ayah baru, yang lebih bertanggung jawab, lebih pengertian, saleh, yang setia dan mau berkorban demi keluarganya…” kataku berusaha menenangkannya.
Masih berurai air mata, Esther menatapku sayu, “Siapa ayah Rian yang baru itu Mas..? Aku mau memberinya ayah seperti yang Mas katakan barusan itu, Aku mau Mas..!”
Kucubit pipinya yang basah oleh air matanya, “Kalau ayahnya itu.. nngg.. Aku.. bagaimana..?”

Esther hanya terdiam, tetapi jelas di matanya makin deras air matanya jatuh di pipinya.
“Aku nggak mau dibohongi Mas, Aku mau Mas serius, jangan mempermainkan perasaanku, Mas..! Pleasee, Aku takut kalau Mas hanya main-main sama Aku..!” katanya dengan sendu.
Gantian aku yang menatap matanya dalam-dalam, “Tahu nggak, Aku punya rencana memberi hadiah buat ulang tahun Rian tahun depan, kamu tau hadiahnya..?”
Esther hanya mengerenyitkan dahi, menunggu kelanjutan ucapanku.
Sambil kukecup pipi kirinya, kubisikkan pelan di telinganya, “Aku mau memberikan adik buat Rian..!”
Sesaat Esther terpaku mendengar ucapanku tadi, sedetik kemudian dia menghambur dalam pelukanku.
“Bener Mass..? Oohh… betapa bahagianya jika memang Mas mau memberi Rian seorang adik, berarti kita menikah kan..?”
Aku tertawa mendengar kata-katanya, “Emang Aku mau apa, punya anak haram..? Lho iya dong,Kita menikah Sayang…”

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 01:15 dini hari, wah gawat nih. Lekas-lekas kulepaskan tubuhnya, kemudian kami pun berbenah merapihkan baju dan tempat yang baru saja terjadi pergumulan dahsyat itu.
Aku tertegun mendapati celana panjangku basah kuyup, kutatap sesaat bagian yang basah itu, lalu kualihkan menatap matanya, entah seperti ada komando, kami tertawa geli, kukatakan kepadanya, “Busyeet dah..! Sampai kayak gini, seperti habis kecebur kolam aja.”
Esther mencubit lenganku keras, sambil menyungut, “Iya nih, Aku sampai dehidrasi..! Kekurangan cairan tubuh..!”
Tidak lama kemudian, aku pamit pulang dengan sejuta kenangan yang akan aku simpan selamanya.

Sampai 4 bulan kemudian, kami pun pisah, karena memang pada dasarnya aku tidak bisa menerima kondisi Esther yang janda beranak satu. Kukenalkan dia dengan salah satu temanku yang juga duda, dan tidak lama kemudian, mereka menikah dan Esther keluar dari kantorku sebulan sebelum dia menikah. Sampai saat ini pun, aku masih terbayang dengan wanita bekas karyawanku itu, yang pernah memberikan sesuatu pengalaman menarik tersendiri, walau sekarang dia sudah menikah. Tapi pengalaman-pengalaman bersamanya masih tetap terpatri di lubuk hatiku yang terdalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s